Di sebuah gang kecil di Dusun Mraen, Sleman, Yogyakarta, berdirilah Sanggar Taman Mraen Mimpi, sebuah gerakan literasi yang lahir dari tekad sederhana untuk memajukan pendidikan, kesenian, dan kebudayaan. Kini, sanggar ini tak hanya berakar di Sleman, tetapi juga menjangkau Jombang, Bekasi, hingga komunitas daring yang merangkul anggota dari berbagai penjuru Indonesia.
Dari ruang inisiatif itulah lahir program STMMind 2.0, sebuah wadah belajar bersama yang pada Sabtu malam (30/8/2025), mengangkat tema “The Emphatic Self Leadership.” Acara yang digelar melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Irene Margareth Saragih, seorang psikolog sekaligus pendiri HRV dan volunteer STMM, dengan Haqqi Arifin sebagai host.
Malam itu Irene berbicara dengan penuh penekanan: seorang pemimpin sejati harus terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri. Pengetahuan tentang diri, katanya, jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui orang lain. “Orang yang mengenal dirinya justru akan menguatkan dirinya sendiri, bukan menggoyahkan,” ujarnya.
Bagi Irene, self leadership boleh belajar dari orang lain, tetapi tidak boleh sekadar menjadi copycat. Meniru tanpa evaluasi hanya akan menjauhkan seseorang dari jati dirinya. Kepemimpinan, tegasnya, harus berangkat dari tujuan yang jelas dan dijalankan dengan keseimbangan. Seorang kepala keluarga, misalnya, tidak bisa disebut pemimpin yang baik jika ia tenggelam dalam urusan organisasi hingga melupakan kewajiban mencari nafkah. Dalam kasus ini, yang dibutuhkan adalah negosiasi—bagaimana menyeimbangkan peran agar tidak ada yang terabaikan.
Dari titik ini Irene menekankan bahwa pemimpin terbaik lahir dari tubuh yang sehat, jiwa yang terjaga, dan hati yang mampu memahami diri sendiri sekaligus lingkungannya. Ia menyebut, “Karena siapa yang mengenal dirinya dengan kasih akan memimpin dengan bijak.”
Konsep Emphatic Self Leadership kemudian ia uraikan secara praktis. Kepada diri sendiri, seorang pemimpin harus berani menyadari dan mengakui emosi pribadi, belajar dari kesalahan tanpa hanya judge diri, berbicara penuh kasih lewat self love talk, menulis empathy journal, serta melatih mindfulness. Sedangkan kepada orang lain, empati diwujudkan dalam active listening, hadir penuh dalam percakapan (be in the present), tidak mudah menghakimi (don’t judge), mencoba melihat dari perspektif lawan bicara, dan akhirnya melakukan reflection untuk memperbaiki cara mendengar maupun merespons. Hal yang perlu penulis tekankan di sini, maksimalkan judge untuk diri sendiri dengan tetap belajar memperbaiki, bukan memaksimalkan judge untuk orang lain dengan mencaci.
Di akhir sesi, Irene menutup dengan sebuah pesan sederhana namun tajam: feedback boleh diterima jika diberikan, tetapi tidak sepatutnya diminta. Kalimat ini seolah menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukanlah tentang mencari validasi, melainkan tentang kerendahan hati untuk menerima dengan tulus, dan kebijaksanaan untuk memberi ruang pada orang lain.
Malam itu, STMMind 2.0 tidak hanya menghadirkan diskusi, melainkan juga mengajak setiap peserta bercermin pada dirinya sendiri: sudahkah kita memimpin diri dengan empati? Dari sebuah gang kecil di Mraen, gagasan besar tentang kepemimpinan yang berakar pada kasih dan keseimbangan terus dipancarkan, menjangkau layar-layar di seluruh Indonesia.
Penulis: Hari Prasetia (Anggota Sanggar Taman Mraen Mimpi)
Diterbitkan juga di halaman https://www.gonews.id/kupas-tuntas-the-emphatic-self-leadership-sanggar-taman-mraen-mimpi-gelar-stmmind-2-0/