Ketika membuka lapak buku keislaman di Car Free Day (CFD) Jombang, perhatian saya tertuju pada stan buku di sebelah, yaitu “Samperin Buku Jombang.” Lapak ini bukan sekadar tempat jual-beli buku, tetapi juga ruang literasi publik yang dirancang inklusif. Mereka menyediakan fasilitas baca gratis, menjual berbagai buku anak seperti pop-up book, serta menyelenggarakan aktivitas edukatif seperti mewarnai dan permainan motorik. Di tengah hiruk pikuk jalanan pagi itu, di antara anak-anak yang menggambar dan orang tua yang asyik membolak-balik halaman buku, saya menjumpai sebuah karya populer “Teach Like Finland: 33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan” oleh Timothy D. Walker.
Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman langsung Walker sebagai guru di Finlandia. Ia menyajikan tiga puluh tiga strategi mengajar yang katanya menjadi rahasia kesuksesan pendidikan Finlandia dan kerap menjadi acuan global dalam reformasi pendidikan. Namun, membaca buku ini justru memunculkan kegelisahan epistemologis, benarkah keberhasilan sistem pendidikan suatu bangsa bisa diringkas dalam daftar strategi yang “sederhana”? Di sinilah letak persoalannya.
Beberapa strategi yang ditawarkan Walker memang terdengar menarik dan intuitif secara pedagogis, seperti memperbanyak waktu istirahat, menciptakan kelas yang santai, serta memberi kebebasan belajar pada siswa. Strategi-strategi ini seakan memberikan alternatif yang menyegarkan dibanding sistem pendidikan yang padat kurikulum, penuh tekanan, dan minim ruang ekspresi sebagaimana sering kita temui pada banyak sekolah di Indonesia. Namun demikian, intuisi yang menyenangkan belum tentu berbanding lurus dengan validitas ilmiah. Dalam ilmu pendidikan, tidak semua praktik yang terasa baik dapat langsung diklaim berhasil secara universal, apalagi tanpa dukungan riset empiris yang kuat.
Sebuah strategi bisa disebut valid jika telah diuji melalui pendekatan ilmiah, misalnya melalui studi longitudinal, eksperimen terkontrol, atau analisis multivariat yang mampu mengisolasi variabel. Tanpa itu, klaim keberhasilan hanya bersifat anekdotal, yaitu menarik, inspiratif, tetapi rapuh. Bahkan lebih berbahaya jika strategi tersebut diimpor begitu saja ke konteks sosial yang berbeda tanpa modifikasi atau pemahaman mendalam.
Kita pun perlu membedakan secara tajam antara korelasi dan kausalitas. Bahwa Finlandia meraih skor tinggi dalam asesmen internasional seperti PISA tidak serta merta membuktikan bahwa strategi-strategi dalam buku tersebut adalah penyebab utamanya. Bisa jadi itu hanya kebetulan korelatif. Di balik skor tersebut, ada faktor-faktor mendalam yang bersifat sistemik dan kultural, seperti status profesional guru yang tinggi, sistem pelatihan guru yang kompetitif dan selektif, iklim kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, dan distribusi ekonomi yang relatif merata. Faktor-faktor seperti ini tak tampak dalam narasi populer yang lebih menekankan pada permukaan metode. Jika kita hanya mengadopsi tip dan trik dari Finlandia tanpa menyoal ekosistem yang menopangnya, maka yang kita salin hanyalah bentuk luar tanpa substansi.
Fenomena ini sering terjadi di Indonesia. Banyak seminar pendidikan dan pelatihan guru yang mengutip Finlandia sebagai rujukan utama, namun sayangnya hanya memungut slogan atau gaya, bukan sistem. Guru didorong menciptakan suasana kelas yang santai, tetapi mereka tetap dibebani kurikulum padat, gaji rendah, dan keterbatasan sarana. Apa gunanya memberi siswa waktu istirahat lebih lama jika kebijakan pendidikan tetap menekan capaian skor sebagai parameter tunggal keberhasilan?Fenomena ini sering terjadi di Indonesia. Banyak seminar pendidikan dan pelatihan guru yang mengutip Finlandia sebagai rujukan utama, namun sayangnya hanya memungut slogan atau gaya, bukan sistem. Guru didorong menciptakan suasana kelas yang santai, tetapi mereka tetap dibebani kurikulum padat, gaji rendah, dan keterbatasan sarana. Apa gunanya memberi siswa waktu istirahat lebih lama jika kebijakan pendidikan tetap menekan capaian skor sebagai parameter tunggal keberhasilan?
Kembali ke CFD Jombang. Di antara suara anak-anak, obrolan orang tua, dan jejeran buku anak yang berwarna-warni, saya kembali pada satu pemahaman mendasar, bahwa pendidikan yang bermakna tidak dibangun dari inspirasi sesaat, tetapi dari ekosistem yang sehat dan budaya berpikir kritis. Komunitas seperti “Samperin Buku Jombang” telah menunjukkan bahwa membangun budaya baca dan literasi keluarga tidak memerlukan gedung megah atau kurikulum canggih. Mereka hadir dengan sederhana, tetapi berdampak karena menghidupkan kebiasaan membaca sejak dini dan menjadikan buku sebagai bagian dari ruang publik.
Pengalaman membaca Teach Like Finland dalam atmosfer seperti ini menjadi simbol penting bahwa inspirasi dari luar negeri harus diolah secara reflektif, bukan ditelan mentah-mentah. Buku inspiratif memang berguna sebagai pemantik wacana, tetapi dalam dunia pendidikan, inspirasi harus bertemu dengan verifikasi. Validitas ilmiah, konteks lokal, dan keberanian menguji kembali apa yang dianggap “sukses” menjadi kunci untuk membangun sistem pendidikan yang relevan dan berkelanjutan. Sebab pendidikan sejatinya bukan soal siapa yang paling cepat menyalin, tetapi siapa yang paling jujur membaca kebutuhan bangsanya sendiri.
Penulis: Hari Prasetia, Alumni S2 Universitas Hasyim Asy’ari
Editor: Muh. Sutan
Diterbitkan juga di halaman https://tebuireng.online/dari-cfd-jombang-ke-finlandia-mencari-validitas-di-balik-strategi-pendidikan/