Judul Buku : Teach Like Finland: 33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan
Penulis : Timothy D. Walker
Penerjemah : Franciskus Wicakso
Cetakan : Pertama
Tahun Terbit : 2017
Penerbit : Gramedia
Halaman : 197 hlm
Nilai tawar buku ini terletak pada kemampuan Walker menerjemahkan kehebatan sistem pendidikan Finlandia ke dalam praktik nyata di ruang kelas. Ia membuktikan bahwa keunggulan Finlandia tidak hanya lahir dari kebijakan menteri, tetapi dari perubahan kecil yang memanusiakan kondisi biologis dan psikologis anak di kelas.
Argumen Inti
Walker menegaskan bahwa prestasi akademik lahir dari keseimbangan antara kesejahteraan psikologis (well-being) dan rasa senang, bukan dari tekanan terus-menerus untuk mencetak nilai. Ia membedah rancangan kelas Finlandia ke dalam lima pilar:

Meski Walker banyak bercerita dari pengalaman pribadinya, argumen ini punya dasar teori yang kuat. Dalam psikologi Self-Determination Theory (SDT), tiga hal utama yang ditulis Walker—kemandirian, penguasaan kemampuan, dan rasa keterhubungan—adalah syarat mutlak agar siswa punya motivasi belajar dari dalam dirinya sendiri (Ryan & Deci, 2000).
Kritik
Titik lemah utama buku ini adalah penyederhanaan masalah yang berlebihan. Walker beranggapan bahwa 33 strategi ini bisa ditiru di kelas mana pun di dunia hanya dengan mengubah cara pandang guru. Logika ini cacat karena mengabaikan kenyataan di luar gerbang sekolah.
Faktanya, keberhasilan strategi Walker ditopang penuh oleh fasilitas Negara Kesejahteraan (Welfare State) di Finlandia (Sahlberg, 2010). Menerapkan gaya belajar yang sangat membebaskan ini tanpa memikirkan jaminan sosial negara, ketiadaan kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, serta kebebasan mutlak bagi guru bergaji tinggi, adalah sebuah mimpi. Memaksakan cangkok budaya pendidikan dari negara maju ke negara berkembang tanpa penyesuaian justru akan berujung pada kegagalan sistem. Istilah joyful learning (belajar menyenangkan) hanya akan menjadi jargon kosong jika fasilitas dasarnya tidak ada.
Kebaruan Karya (Novelty)
Di tengah banyaknya buku tentang “keajaiban Finlandia” yang hanya membahas masalah undang-undang dan kebijakan publik, keunikan Walker ada pada fokusnya di praktik harian guru. Ia tidak pamer data statistik yang membosankan, melainkan memberi panduan taktis secara psikologis. Buku ini menjadi jembatan agar guru bisa langsung melakukan perbaikan di ruang kelasnya masing-masing.
Tantangan Penerapan di Indonesia
Membenturkan ide Walker dengan realitas pendidikan di Indonesia memunculkan perdebatan menarik. Secara gagasan filosofis, pilar belajar menyenangkan ala Finlandia ini sangat sejalan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara melalui sistem Among dan Taman Siswa—bahwa pendidikan itu harus memerdekakan dan membahagiakan anak (Soeratman, 1989).
Namun, masalahnya ada pada budaya dan sistem birokrasi kita. Kurikulum Merdeka saat ini memang bertujuan memberi kebebasan ala Finlandia. Kenyataannya di lapangan, guru-guru Indonesia masih dihimpit oleh tumpukan beban administrasi (Wahyudin et al., 2024), sangat berbeda dengan guru Finlandia yang terbebas dari hal tersebut. Selain itu, strategi belajar mandiri ala Walker perlu disesuaikan dengan budaya Indonesia yang suka bergotong royong. Mengingat jumlah murid di kelas Indonesia sangat padat dengan jumlah guru yang terbatas, kemandirian ini harus digabung dengan metode belajar berkelompok (Cooperative Learning) agar kelas tetap terkendali (Sulistio & Haryanti, 2022).
Epilog
Teach Like Finland adalah buku panduan yang sangat bermanfaat bagi para guru yang ingin mengubah suasana kelas dari yang penuh tekanan nilai menjadi ruang belajar yang sehat dan menyenangkan. Namun, bagi para pembuat kebijakan pemerintah, buku ini tidak boleh ditelan mentah-mentah. Memuja sistem Finlandia tanpa memperbaiki ruwetnya birokrasi, ketimpangan fasilitas sekolah, dan rendahnya kesejahteraan guru hanya akan menghasilkan perbaikan polesan luar saja. Inovasi metode mengajar di kelas harus selalu diiringi dengan perbaikan nasib gurunya.
Referensi
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being. 55(1), 68–78.
Sahlberg, P. (2010). Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland? Teachers College Press.
Soeratman, D. (1989). Ki Hajar Dewantara (2nd ed.). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Sulistio, A., & Haryanti, N. (2022). Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning Model) (1st ed.). Eureka Media Aksara.
Wahyudin, D., Subkhan, E., Malik, A., Hakim, M. A., Sudiapermana, E., Alhapip, L., Anggraena, Y., Maisura, R., Amalia, N. R. A. S., Solihin, L., Ali, N. B. V., & Krisna, F. N. (2024). Kurikulum Merdeka. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Penulis: Hari Prasetia
