Gerakan literasi sejatinya tidak pernah membatasi diri hanya dalam sekat tembok perpustakaan. Gerakan ini hidup, menyapa masyarakat, dan berbaur dengan dinamika keseharian warga. Berpijak pada prinsip tersebut, Samperin Buku Jombang—salah satu simpul dari Sanggar Taman Mraen Mimpi (STMM)—mengambil langkah konkret dengan turut meramaikan ajang Festival 16.30 (25/4/26).
Bertempat di Tirta Wisata, kegiatan yang diinisiasi langsung oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang ini mengusung tema besar yang sangat menggugah, “Energi Muda Mengubah Dunia”.
Kehadiran festival ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah manuver strategis pemerintah daerah demi menghidupkan kembali pesona ikon-ikon wisata lama yang dulu pernah berjaya, sekaligus memberikan panggung kreasi yang seluas-luasnya bagi generasi muda.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan anak muda bukan sekadar pelengkap, melainkan motor penggerak utama. “Generasi muda memiliki energi besar yang bisa menjadi penggerak kemajuan wisata daerah,” imbuh Evva lebih lanjut.
Di tengah semarak dan hiruk-pikuk festival, lapak Samperin Buku hadir menawarkan oase ketenangan yang menyenangkan. Suasana di Tirta Wisata yang begitu hidup dengan beragam agenda fisik dan rekreasi serta memadukan unsur olahraga, lingkungan, dan hiburan.

Masyarakat antusias mengikuti senam bersama, aksi tebar ikan, hingga agenda memancing bareng yang menyedot banyak perhatian. Bahkan, di sela-sela riuhnya tarikan kail, terdengar bisikan warga yang menyebut bahwa “Surga itu mancing”, hehe.
Tepat di tengah pusaran energi yang dinamis itulah, para relawan literasi Samperin Buku menggelar koleksi bacaan inklusif mereka. Pendekatan jemput bola dengan membuka lapak di ruang publik terbuka ini terbukti menjadi strategi pedagogik yang sangat ampuh untuk membangun ekologi kognitif literasi dini yang sehat.
Dengan menyajikan buku-buku bergambar hingga koleksi pop-up book yang atraktif, ruang baca ini secara langsung meruntuhkan intoleransi kebosanan pada anak-anak. Ditambah selingan mainan tradisional dan edukatif, alih-alih merasa terpaksa membaca dalam suasana kaku, anak-anak di festival ini menganggap buku sebagai rekreasi yang sama serunya dengan berbagai kegiatan lain di sekitarnya.
Namun, kiprah Samperin Buku di Festival 16.30 tidak hanya berhenti pada lapak baca. Komunitas ini mendapatkan kehormatan menjadi salah satu elemen pemuda yang diundang secara resmi oleh Disporapar Jombang untuk berpartisipasi dalam agenda City Tour.
Bergabung dalam rombongan ini, para relawan berbaur dengan tokoh pemuda inspiratif lainnya. Komposisi peserta tur ini sangat inklusif, mencakup Pemuda Pelopor, Purna Paskibraka dan Duta Pancasila, Komunitas Konten Kreator Jombang, hingga Paguyuban Guk Yuk. Tidak ketinggalan, hadir pula para atlet dan pelatih dedikatif dari cabang olahraga kempo dan lain-lain.
Perjalanan city tour edukatif ini disusun secara terencana tanpa mengurangi esensi petualangan. Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan registrasi seluruh peserta di Taman Tirta Wisata. Selama satu jam berikutnya, suasana pagi dihangatkan dengan suguhan musik keroncong yang memanjakan telinga sekaligus melestarikan kearifan lokal.
Setelah sajian keroncong yang ramah telinga, rombongan bertolak menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo. Di sana, para pemuda mendapatkan asupan edukasi lingkungan dan pengolahan sampah secara gamblang. “Sampah-sampah yang tidak mampu diolah seperti logam, kain, dan popok bayi nantinya akan kita tampung dengan media khusus agar tidak mencemari tanah, air, maupun udara”, ujar salah satu petugas.
Menjelang siang, iring-iringan peserta bergerak menuju jantung pemerintahan daerah. Melalui sesi bertajuk “Pendopo untuk Rakyat” di Pendopo Kabupaten, ruang interaksi bagi generasi muda terbuka lebar. Rangkaian tur lintas titik ikonik ini kemudian disambung dengan perjalanan menuju Desa Gudo.
Para relawan dan elemen pemuda lainnya mendalami toleransi dan sejarah melalui Edukasi Budaya di Klenteng Hong San Kiong, mengenal wayang Potehi yang kini telah mendunia, sebelum akhirnya seluruh rombongan bertolak kembali ke Tirta Wisata.
Keberhasilan Samperin Buku dalam mengaktivasi ruang publik di Festival 16.30 menjadi bukti autentik bahwa filosofi “jemput bola” yang diusung oleh jejaring Sanggar Taman Mraen Mimpi (STMM) sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Partisipasi ini bukan sekadar kehadiran seremonial, melainkan manifestasi nyata dari misi STMM untuk membangun ekosistem literasi yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada aksi nyata di akar rumput.
Komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan festival ini sebagai agenda rutin dua bulanan juga menjadi peluang emas bagi Samperin Buku untuk terus memperluas jangkauan literasinya.
Melalui sinergi antara semangat kerelawanan STMM dan dukungan kebijakan daerah, Samperin Buku kini berdiri sebagai garda depan yang membuktikan bahwa pemuda Jombang tidak hanya siap membaca, tetapi juga siap bergerak memimpin perubahan dan menghidupkan kembali identitas daerahnya.
Penulis: Hari Prasetia
